Setelah kita membahas tentang Konsep supervisi akademik dalam kurikulum 2013 , kita memiliki pemahaman tentang bagaimana kegiatan supervis...
Home / All posts
20 June 2014
Setelah kita membahas tentang Konsep supervisi akademik dalam kurikulum 2013, kita memiliki pemahaman tentang bagaimana kegiatan supervisi akademik itu menjadi begitu penting peranannya dalam meningkatkan profesionalisme guru, sekarang kita membahas mengenai tekniknya.
Teknik supervisi akademik terdiri atas dua macam, yaitu teknik supervisi individual dan teknik supervisi kelompok. Mari kita bahas satu persatu.
1. Teknik supervisi individual
Teknik supervisi individual adalah pelaksanaan supervisi perseorangan terhadap guru. Supervisor di sini hanya berhadapan dengan seorang guru sehingga dari hasil supervisi ini akan diketahui kualitas pembelajarannya. Teknik supervisi individual terdiri atas lima macam yaitu kunjungan kelas, observasi kelas, pertemuan individual, kunjungan antarkelas, dan menilai diri sendiri.
a. Kunjungan kelas
Kunjungan kelas adalah teknik pembinaan guru oleh kepala sekolah untuk mengamati proses pembelajaran di kelas. Tujuannya adalah untuk menolong guru dalam mengatasi masalah di dalam kelas. Cara melaksanakan kunjungan kelas adalah sebagai berikut:
- Dengan atau tanpa pemberitahuan terlebih dahulu tergantung sifat tujuan dan masalahnya,
- Atas permintaan guru bersangkutan,
- Sudah memiliki instrumen atau catatan-catatan, dan
- Tujuan kunjungan harus jelas.
- Tahap persiapan. Pada tahap ini, supervisor merencanakan waktu, sasaran, dan cara mengobservasi selama kunjungan kelas.
- Tahap pengamatan selama kunjungan. Pada tahap ini, supervisor mengamati jalannya proses pembelajaran berlangsung.
- Tahap akhir kunjungan. Pada tahap ini, supervisor bersama guru mengadakan perjanjian untuk membicarakan hasil-hasil observasi.
- Tahap terakhir adalah tahap tindak lanjut.
Teknik supervisi individual melalui kunjungan kelas harus menggunakan enam kriteria, yaitu (1) memiliki tujuan-tujuan tertentu, (2) mengungkapkan aspek-aspek yang dapat memperbaiki kemampuan guru, (3) menggunakan instrumen observasi untuk mendapatkan data yang obyektif, (4) terjadi interaksi antara pembina dan yang dibina sehingga menimbulkan sikap saling pengertian, (5) pelaksanaan kunjungan kelas tidak menganggu proses pembelajaran; dan (6) pelaksanaannya diikuti dengan program tindak lanjut.
b. Observasi kelas
Observasi kelas adalah mengamati proses pembelajaran secara teliti di kelas. Tujuannya adalah untuk memperoleh data obyektif aspek-aspek situasi pembelajaran, kesulitan-kesulitan guru dalam usaha memperbaiki proses pembelajaran.
Secara umum, aspek-aspek yang diobservasi adalah usaha-usaha dan aktivitas guru-siswa dalam proses pembelajaran, cara menggunakan media pengajaran, variasi metode, ketepatan penggunaan media dengan materi, ketepatan penggunaan metode dengan materi, dan reaksi mental para siswa dalam proses belajar mengajar.
Pelaksanaan observasi kelas ini melalui tahapan, yaitu persiapan, pelaksanaan, penutupan, penilaian hasil observasi; dan tindak lanjut. Supervisor: 1) sudah siap dengan instrumen observasi, 2) menguasai masalah dan tujuan supervisi, dan 3) observasi tidak mengganggu proses pembelajaran.
c. Pertemuan Individual
Pertemuan individual adalah satu pertemuan, percakapan, dialog, dan tukar pikiran antara supervisor guru. Tujuannya adalah:
- memberikan kemungkinan pertumbuhan jabatan guru melalui pemecahan kesulitan yang dihadapi;
- mengembangkan hal mengajar yang lebih baik;
- memperbaiki segala kelemahan dan kekurangan pada diri guru; dan menghilangkan atau menghindari segala prasangka.
Swearingen (1961) mengklasifikasi empat jenis pertemuan (percakapan) individual sebagai berikut
- classroom-conference, yaitu percakapan individual yang dilaksanakan di dalam kelas ketika murid-murid sedang meninggalkan kelas (istirahat).
- Office-conference. Yaitu percakapan individual yang dilaksanakan di ruang kepala sekolah atau ruang guru, di mana sudah dilengkapi dengan alat-alat bantu yang dapat digunakan untuk memberikan penjelasan pada guru.
- causal-conference. Yaitu percakapan individual yang bersifat informal, yang dilaksanakan secara kebetulan bertemu dengan guru
- observational visitation. Yaitu percakapan individual yang dilaksanakan setelah supervisor melakukan kunjungan kelas atau observasi kelas.
Supervisor harus berusaha mengembangkan segi-segi positif guru, mendorong guru mengatasi kesulitan-kesulitannya, memberikan pengarahan, dan melakukan kesepakatan terhadap hal-hal yang masih meragukan.
d. Kunjungan antar kelas
Kunjungan antar kelas adalah guru yang satu berkunjung ke kelas yang lain di sekolah itu sendiri. Tujuannya adalah untuk berbagi pengalaman dalam pembelajaran. Cara-cara melaksanakan kunjungan antar kelas, yaitu:
- harus direncanakan;
- guru-guru yang akan dikunjungi harus diseleksi;
- tentukan guru-guru yang akan mengunjungi;
- sediakan segala fasilitas yang diperlukan;
- supervisor hendaknya mengikuti acara ini dengan pengamatan yang cermat;
- adakah tindak lanjut setelah kunjungan antar kelas selesai, misalnya dalam bentuk percakapan pribadi, penegasan, dan pemberian tugas-tugas tertentu;
- segera aplikasikan ke sekolah atau ke kelas guru bersangkutan, dengan menyesuaikan pada situasi dan kondisi yang dihadapi;
- adakan perjanjian-perjanjian untuk mengadakan kunjungan antar kelas berikutnya.
e. Menilai diri sendiri
Menilai diri adalah penilaian diri yang dilakukan oleh diri sendiri secara objektif. Untuk maksud itu diperlukan kejujuran diri sendiri. Cara menilai diri sendiri adalah sebagai berikut.
- Suatu daftar pandangan atau pendapat yang disampaikan kepada murid-murid untuk menilai pekerjaan atau suatu aktivitas. Biasanya disusun dalam bentuk pertanyaan baik secara tertutup maupun terbuka, dengan tidak perlu menyebut nama.
- Menganalisa tes-tes terhadap unit kerja.
- Mencatat aktivitas murid-murid dalam suatu catatan, baik mereka bekerja secara individu maupun secara kelompok.
2. Teknik Supervisi kelompok
Teknik supervisi kelompok adalah satu cara melaksanakan program supervisi yang ditujukan pada dua orang atau lebih. Guru-guru yang diduga, sesuai dengan analisis kebutuhan, memiliki masalah atau kebutuhan atau kelemahan-kelemahan yang sama dikelompokkan atau dikumpulkan menjadi satu/bersama-sama. Kemudian kepada mereka diberikan layanan supervisi sesuai dengan permasalahan atau kebutuhan yang mereka hadapi. Menurut Gwynn (1961), ada tiga belas teknik supervisi kelompok yaitu kepanitiaan-kepanitiaan, kerja kelompok, laboratorium dan kurikulum, membaca terpimpin, demonstrasi pembelajaran, darmawisata, kuliah/studi, diskusi panel, perpustakaan, organisasi profesional, buletin supervisi, pertemuan guru, lokakarya atau konferensi kelompok
Tidak satupun di antara teknik-teknik supervisi individual atau kelompok di atas yang cocok atau bisa diterapkan untuk semua pembinaan guru di sekolah. Oleh sebab itu, seorang kepala sekolah harus mampu menetapkan teknik-teknik mana yang sekiranya mampu membina keterampilan pembelajaran seorang guru. Untuk menetapkan teknik-teknik supervisi akademik yang tepat tidaklah mudah.
Seorang kepala sekolah, selain harus mengetahui aspek atau bidang keterampilan yang akan dibina, juga harus mengetahui karakteristik setiap teknik di atas dan sifat atau kepribadian guru sehingga teknik yang digunakan betul-betul sesuai dengan guru yang sedang dibina melalui supervisi akademik. Sehubungan dengan kepribadian guru, Lucio dan McNeil (1979) menyarankan agar kepala sekolah mempertimbangkan enam faktor kepribadian guru, yaitu kebutuhan guru, minat guru, bakat guru, temperamen guru, sikap guru, dan sifat-sifat somatic guru.
Implementasi kurikulum 2013 sebagaimana diatur dalam Permendikbud no. 81.A memerlukan perhatian dan usaha yang serius untuk memastikan implementasi tersebut dapat dilakukan sesuai yang diharapkan. Sehubungan dengan hal tersebut sesuai dengan Permendiknas No.13 Tahun 2007 tentang Standar Kepala sekolah/madrasah menegaskan bahwa seorang kepala sekolah/madrasah harus mampu melakukan supervisi akademik dalam bentuk bimbingan, arahan dan pembinaan bagi guru dalam mengimplemnetasikan kurikulum
A.Pengertian Supervisi Akademik
Supervisi akademik adalah serangkaian kegiatan membantu guru mengembangkan kemampuannya mengelola proses pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran (Daresh, 1989, Glickman, et al; 2007). Supervisi akademik tidak terlepas dari penilaian kinerja guru dalam mengelola pembelajaran. Sergiovanni (1987) menegaskan bahwa refleksi praktis penilaian kinerja guru dalam supervisi akademik adalah melihat kondisi nyata kinerja guru untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan, misalnya apa yang sebenarnya terjadi di dalam kelas?, apa yang sebenarnya dilakukan oleh guru dan siswa di dalam kelas?, aktivitas-aktivitas mana dari keseluruhan aktivitas di dalam kelas itu yang bermakna bagi guru dan murid?, apa yang telah dilakukan oleh guru dalam mencapai tujuan akademik?, apa kelebihan dan kekurangan guru dan bagaimana cara mengembangkannya?. Berdasarkan jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan ini akan diperoleh informasi mengenai kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran. Namun satu hal yang perlu ditegaskan di sini, bahwa setelah melakukan penilaian kinerja berarti selesailah pelaksanaan supervisi akademik, melainkan harus dilanjutkan dengan tindak lanjutnya berupa pembuatan program supervisi akademik dan melaksanakannya dengan sebaik-baiknya.
B. Tujuan dan fungsi supervisi akademik
Tujuan supervisi akademik di antaranya adalah membantu guru mengembangkan kompetensinya, mengembangkan kurikulum, mengembangkan kelompok kerja guru, dan membimbing penelitian tindakan kelas (PTK) (Glickman, et al; 2007, Sergiovanni, 1987). Gambar tiga tujuan supervisi akademik sebagaimana dapat dilihat pada gambar di bawah ini. :
Supervisi akademik merupakan salah satu (fungsi mendasar (essential function) dalam keseluruhan program sekolah (Weingartner, 1973; Alfonso dkk., 1981; dan Glickman, et al; 2007). Hasil supervisi akademik berfungsi sebagai sumber informasi bagi pengembangan profesionalisme guru.
C. Prinsip-prinsip supervisi akademik
- Praktis, artinya mudah dikerjakan sesuai kondisi sekolah.
- Sistematis, artinya dikembangan sesuai perencanaan program supervisi yang matang dan tujuan pembelajaran.
- Objektif, artinya masukan sesuai aspek-aspek instrumen.
- Realistis, artinya berdasarkan kenyataan sebenarnya.
- Antisipatif, artinya mampu menghadapi masalah-masalah yang mungkin akan terjadi.
- Konstruktif, artinya mengembangkan kreativitas dan inovasi guru dalam mengembangkan proses pembelajaran.
- Kooperatif, artinya ada kerja sama yang baik antara supervisor dan guru dalam mengembangkan pembelajaran.
- Kekeluargaan, artinya mempertimbangkan saling asah, asih, dan asuh dalam mengembangkan pembelajaran.
- Demokratis, artinya supervisor tidak boleh mendominasi pelaksanaan supervisi akademik.
- Aktif, artinya guru dan supervisor harus aktif berpartisipasi.
- Humanis, artinya mampu menciptakan hubungan kemanusiaan yang harmonis, terbuka, jujur, ajeg, sabar, antusias, dan penuh humor
- Berkesinambungan (supervisi akademik dilakukan secara teratur dan berkelanjutan oleh Kepala sekolah).
- Terpadu, artinya menyatu dengan dengan program pendidikan.
- Komprehensif, artinya memenuhi ketiga tujuan supervisi akademik di atas (Dodd, 1972).
KONSEP SUPERVISI AKADEMIK DALAM KURIKULUM 2013
Implementasi kurikulum 2013 sebagaimana diatur dalam Permendikbud no. 81.A memerlukan perhatian dan usaha yang serius untuk memastikan imp...
19 June 2014
Program ProDEP merupakan kerjasama pemerintah Australia dengan pihak Indonesia melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan guna Pengembangan kompetensi tenaga kependidikan (Professional Development for Education Personnel/ProDEP). Program ini didanai oleh Pemerintah Australia melalui hibah yang berdurasi selama 4 tahun (2013-2016). Hibah ini akan didistribusikan kepada instansi pelaksana (pusbangtendik, LPMP, LPPKS, dan PPPPTK) dalam durasi waktu dimaksud.
Pada tahun 2014 ini, program ProDEP akan melakanakan kegiatan-kegiatan sebagai berikut:
- Rapat Koordinasi Teknis (Rakortek) Implementasi Program ProDEP
- Lokakarya Pengembangan Renstra Pendidikan dan Manajemen Keuangan
- Seleksi Akademik Calon Kepala Sekolah
- Diklat Calon Kepala Sekolah
- Pelatihan Program Pendampingan Kepala Sekolah oleh Pengawas Sekolah/Madrasah - Sekolah Dasar/MI (PPKSPS/M SD/MI)
- Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan Kepala Sekolah/Madrasah - SD/MI (PKB KS/M - SD/MI)
Terkait dengan hal itu BPSDMPK Kemdikbud melalui situs http://padamu.siap.id/ menginformasikan bahwa akan menyelenggarakan program pendidikan dan pelatihan ProDEP (Professional Development for Education Personnel) untuk jenjang SD/MI dan SMP/MTs mulai Juli 2014. Pelaksanaan kegiatan tersebut menggunakan Sistem PADAMU NEGERI untuk proses ajuan dan seleksi para peserta Diklat ProDEP.
Beberapa program ProDEP yang menggunakan Sistem PADAMU NEGERI dimaksud antara lain:
- PPKSPS (Program Pendampingan Kepala Sekolah/Madrasah oleh Pengawas Sekolah) bagi Pengawas Sekolah/Madrasah
- PKB (Program Keprofesian Berkelanjutan) bagi Kepala Sekolah
- PPCKS (Program Penyiapan Calon Kepala Sekolah) bagi Guru
Ditegaskan bahwa peserta terpilih dalam kegiatan program ProDEP sepenuhnya dibiayai oleh BPSDMPK Kemdikbud dan Pemerintah Australia. Karena kuota peserta terbatas pada program ProDEP tersebut, maka para calon peserta (Pengawas, Kepsek dan Guru) dihimbau melakukan pemutakhiran data Portofolio Personalnya menggunakan akun login masing-masing di PADAMU NEGERI sebagai dasar seleksi peserta terpilih program ProDEP.
Diharapkan semoga dengan adanya program ProDEP ini dapat lebih meningkatan kualitas dan profesionalisme para Pengawas, Kepsek dan Guru Calon Kepsek secara berkelanjutan.
Surat Edaran pendukung kegiatan tersebut dapat diunduh pada link berikut :
BPSDMPK AKAN ADAKAN DIKLAT BAGI PENGAWAS, KEPALA SEKOLAH DAN CALON KEPALA SEKOLAH MELALUI PROGRAM ProDEP
Program ProDEP merupakan kerjasama pemerintah Australia dengan pihak Indonesia melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan guna Pengemb...
18 June 2014
Pengumuman Ujian nasional untuk SMP dan Ujian Sekolah untuk SD baru saja berlalu. Pengumuman kelulusan tidak serta merta langsung disertai dengan terbitnya ijazah atau SKHU dari pusat. Butuh proses lama untuk penerbitan Ijazah dan SKHU, sementara panitia di sekolah didesak oleh siswa karena akan segera dipergunakan sebagai syarat pendaftaran di jenjang pendidikan selanjutnya.
Penerbitan Surat Keterangan Lulus atau SKHU sementara oleh pihak sekolah dapat dijadikan alternatif solusi bagi permasalahan ini.
Membuat blanko dan mengisi datanya dengan tulis tangan secara manual ? Ah… saya kira bukan zamannya lagi, sebab disamping kurang praktis akan kelihatan kurang profesional dan rawan kesalahan. Iya kalau jumlah siswanya sedikit. Bagaimana kalau siswanya banyak sampai ratusan ?
Banyak yang memberikan contoh-contoh aplikasi SKHU sementara yang berbasis VBA maupun macros. Tetapi terus terang saya kurang paham bahasa VBA, fasilitas macros maupun bahasa pemrograman lainnya. Oleh karena itu di sini saya mencoba membagikan contoh pembuatan SKHU Sementara dengan memanfaatkan fitur mail merge pada MS Word dengan menggunakan data source dari MS Excel.
Mohon maaf pada kesempatan ini saya tidak akan menjelaskan secara rinci bagaimana cara menjalankan fasilitas mail merge, bagi yang sudah menguasai silahkan tinggal dikembangkan sedangkan bagi yang belum paham sama sekali saya sarankan untuk googling saja deh.
Baiklah kita mulai saja dengan ..
A. MEMBUAT/MENGISI DATA PADA MS EXCEL UNTUK DATA SOURCE
Pertama kali silahkan unduh filenya dulu :
1. Untuk jenjang SD di sini .
Kode mapel r = nilai raport, us=nilai ujian sekolah dan s=nilai sekolah
2. Untuk Jenjang SMP di sini
Kode mapel s = nilai sekolah, n = nilai ujian nasional dan a = nilai akhir
Lengkapi data pada sheet “data mentah” sedangkan pada sheet “data source” biarkan saja jangan diutak-atik dan nanti akan kita pergunakan sebagai data source. Mengapa demikian ? Sering terjadi jika kita mempergunakan MS Office 2007 ke atas, pada main dokumennya muncul digit angka di belakang koma yang banyak. Oleh karena itu pada sheet data source sudah dikunci dengan formula “FIXED” dua desimal, sehingga nantinya yang muncul pada main dokumen 2 angka di belakang koma.
Jika sudah selesai mengisi data, mungkin dengan jalan diketik atau copy paste data yang sudah ada, jangan lupa disimpan (save) kemudian close.
B. MENGEDIT DATA PADA MAIN DOKUMEN (MS. WORD)
Silahkan unduh file word yang sudah saya seting :
1. Untuk jenjang SD di sini
2. Untuk jenjang SMP di sini
Buka main dokumennya dengan memilih data source dari file MS Excel yang sudah kita edit tadi. Sekali lagi saya tekankan di sini, bahwa saya tidak akan membahas bagaimana mempergunakan dan menjalankan mail merge. Ini contoh yang sudah jadi, tinggal disesuaikan dengan identitas sekolah. Field-field dari data source juga sudah diinsertkan.
Pergunakan tombol preview result tombol data record untuk mengecek hasilnya, sebelum mencetak.
C. MENCETAK SKHU
Page setup pada main dokumen word saya setting dengan ukuran A4 dan margin 4 untuk semua sisi, dengan maksud nantinya kita cetak menggunakan kertas blanko piagam yang banyak di jual di toko-toko. Mengapa demikian ? Main dokumen ini sengaja tidak saya berikan border seperti pada desain SKHU sementara yang banyak beredar karena akan memberatkan kerja printer. Kalau kita memakai kertas blanko piagam disamping lebih praktis, tampilannya juga lebih bonafid. He he… Tetapi kalau mau menggunakan kertas polos biasa juga tidak masalah, ini tergantung selera saja.
Untuk mencetak dokumen ini tinggal klik tombol “Finish & Merge”. Ada dua pilihan yang muncul yaitu edit individual (akan muncul dokumen dengan jumlah halam sesuai data record) sehingga kita mungkin mau memngedit secara individual masing-masing siswa sebelum kita cetak, pilihan kedua adalah Print dokumen (mencetak secara langsung masing-masing data record.
dan berikut inilah hasil yang tercetak …
Selamat mencoba….!
MEMBUAT SKHU SEMENTARA DENGAN “MAIL MERGE”
Pengumuman Ujian nasional untuk SMP dan Ujian Sekolah untuk SD baru saja berlalu. Pengumuman kelulusan tidak serta merta langsung disertai...
Subscribe to:
Comments (Atom)
Populer Post
Arsip Blog
Artikel Pilihan
UPT Dinas Dikbud Kec. Wanasaba Gelar Bimtek Dapodik Versi 2026.c untuk Operator Sekolah
Wanasaba — UPT Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kecamatan Wanasaba bekerja sama dengan Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S) Kecamata...


